Aplikasi bias kognitif dalam strategi positioning brand premium.
Konsumen mengira mereka mengambil keputusan rasional, namun kenyataannya mereka menggunakan heuristik—shortcut mental untuk mengambil keputusan cepat. Brand expert tidak menjual fitur, mereka mengarahkan heuristik konsumen.
Otak manusia cenderung terpaku pada informasi pertama yang diterima (jangkar). Dengan menampilkan paket harga 'Enterprise' yang mahal di awal, paket 'Pro' yang sebenarnya juga mahal akan terlihat jauh lebih terjangkau dan masuk akal.
Sediakan opsi ketiga (decoy) yang dirancang agar tidak menarik, namun membuat opsi termahal terlihat memiliki value jauh lebih tinggi. Ini mengalihkan fokus konsumen dari 'apakah saya butuh ini' menjadi 'opsi mana yang paling menguntungkan'.
Orang tidak mengingat seluruh pengalaman, hanya titik puncak (peak) dan akhir (end). Investasikan resource lebih besar pada momen 'aha!' saat penggunaan produk dan pada proses closing/unboxing untuk meninggalkan impresi jangka panjang yang positif.
Terlalu banyak pilihan menyebabkan 'analysis paralysis' dan menurunkan konversi. Sederhanakan pilihan Anda. Kurasi opsi terbaik untuk pelanggan sehingga mereka merasa terbantu dalam mengambil keputusan, bukan merasa terbebani.
Terdapat garis tipis antara persuasi dan manipulasi. Gunakan cognitive bias untuk membantu pelanggan menemukan solusi yang memang mereka butuhkan, bukan untuk menjebak mereka membeli sesuatu yang tidak memberikan nilai. Kepercayaan adalah aset branding tertinggi.