Menghitung kontribusi setiap channel pada konversi akhir konsumen.
Di era omnichannel, customer journey sangat kompleks. Konsumen mungkin melihat iklan di IG, membaca review di blog, dan akhirnya membeli melalui website. Menentukan channel mana yang paling berkontribusi adalah tantangan besar.
Banyak perusahaan masih menggunakan last-touch attribution yang memberikan kredit penuh pada channel terakhir. Ini menyesatkan karena mengabaikan semua touchpoints awal yang membangun awareness dan trust.
Model Linear memberikan bobot sama untuk semua touchpoint, sementara Time-Decay memberikan bobot lebih besar pada channel yang paling dekat dengan waktu konversi. Keduanya lebih baik, tapi masih bersifat heuristik.
Standard emas bagi expert adalah DDA. Dengan menggunakan algoritma machine learning, DDA menganalisis ribuan jalur konversi untuk menentukan kontribusi aktual setiap touchpoint berdasarkan data statistik, bukan asumsi.
Efektivitas atribusi bergantung pada implementasi Unified Customer Profile. Penggunaan Unique Identifier yang konsisten di seluruh channel sangat krusial agar data tidak terfragmentasi.
Dengan model atribusi yang tepat, marketer dapat memindahkan budget dari channel yang terlihat perform (berdasarkan last-click) namun sebenarnya tidak memberikan value inkremental, ke channel yang berperan sebagai catalyst.